Kajian Islam
Konsep Sosial dalam Islam dari sudut pandang Surat Ali-Imran ayat 133-134

Islam merupakan sebuah agama yang mengajarkan beragam konsep dalam kehidupan. Di antara sekian banyak konsep tersebut, Islam  mengajarkan konsep yang baik dan menarik dalam kehidupan sosial. Dalam tulisan kali ini, terdapat konsep sosial dalam Islam dari sudut pandang Al-Qur’an Surat Al-Imran ayat 133-134 yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sosial kita, insya Allah.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk menyegerakan diri kepada ampunan dan surga-Nya yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Artinya Allah menghadiahkan ampunan dan surga-Nya untuk orang yang bertaqwa. Pada ayat selanjutnya, pada surat Al-Imran ayat 134, Allah lanjutkan dengan, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Pada ayat 134, Allah jelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan orang yang bertaqwa pada ayat 133. Allah jabarkan satu persatu tentang mereka yang bertaqwa tersebut ke dalam tiga golongan, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang dan sempit, lalu orang-orang yang menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Tiga golongan ini adalah golongan yang disebut bertaqwa oleh Allah SWT. Dan kita mendapati sisi-sisi akhlaqul karimah dalam kehidupan sosial pada ketiga golongan ini. Artinya konsep sosial dalam ayat ini adalah menuju kepada jalan taqwa.

Pertama, menafkahkan harta di waktu lapang dan sempit. Menafkahkan harta di waktu lapang mungkin sering kita dapati dalam kehidupan kita di tengah masyarakat walaupun masih banyak juga yang belum mau menafkahkan hartanya di waktu lapangnya, namun menafkahkan harta di waktu sempit sebagaimana yang dikatakan Allah SWT dalam ayat ini tentunya lebih sulit untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sosial kita, dan ini merupakan seruan Allah kepada kita untuk menggapai predikat taqwa. Banyak sekali riwayat yang menceritakan bagaimana Rasulullah Saw dan keluarganya serta para sahabatnya menafkahkan harta di waktu lapang dan sempit. Tentunya kita sudah sering mendengar cerita bagaimana ketika Sayyidina Ali Bin Abi Thalib melakukan puasa nazarnya selama tiga hari berturut-turut ketika Allah SWT berikan kesembuhan kepada kedua anaknya, yaitu sayyidina Hasan dan sayyidina Husein. Dalam riwayat diceritakan bahwa Sayyidina Ali melakukan puasa bersama istrinya, yaitu sayyidah Fatimah Azzahra dan kedua anaknya. Dalam tiga hari tersebut, keluarga mulia ini selalu didatangi oleh orang-orang yang meminta shadaqah saat berbuka puasa. Sementara makanan buka puasa mereka itulah rezeki yang mereka miliki saat itu, dan makanan buka puasa itu hanyalah sepotong kurma dan sedikit air. Namun, kondisi seperti ini tidak menghalangi sayyidina Ali untuk memberikan kurma yang menjadi makanan buka puasanya tersebut kepada miskin, yatim, dan tawanan perang yang mendatangi rumahnya selama tiga hari berturut-turut. Bahkan istri dan kedua anaknya pun ikut memberikan kurma bagiannya kepada orang-orang tersebut.

Sepotong kurma yang menjadi satu-satunya makanan berbuka puasa diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Kondisi sempit seperti itu mampu dilalui oleh sayyidina Ali dan keluarganya dengan tetap menafkahkan apa yang mereka miliki saat itu. Di sana kita belajar tentang pengorbanan dan ikhlas dalam amal. Tentunya ini menjadi renungan bagi kita untuk mencapai predikat taqwa tersebut dengan menafkahkan sebagian harta kita tidak hanya di waktu lapang, namun juga di waktu sempit.

Kedua, Allah katakan dalam ayat 134, menahan amarah yang kemudian dilanjutkan dengan memaafkan sesama. Menahan amarah dan memaafkan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Dalam kehidupan sosial, disadari atau tidak, kita sebagai manusia tentu pernah mendapatkan masalah. Selesai satu masalah, kemudian datang masalah yang lain. Masalah-masalah ini tentunya menguji kesabaran kita. Ada yang mampu bersabar, ada juga yang meluapkannya dengan amarah. Dalam sabdanya, Rasulullah Saw mengatakan bahwa, “orang yang kuat itu bukanlah orang yang menang berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya di waktu marah” (H.R. Bukhari). Setelah menahan amarah, sikap memaafkan meninggikan derajat manusia di hadapan Allah SWT sebagai manusia bertaqwa. Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan satu ayatpun yang memerintahkan manusia untuk meminta maaf kepada sesamanya. Namun begitu banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkahkan manusia untuk memaafkan. Memaafkan tentunya dengan ikhlas tanpa mengungkit-ungkit kembali permasalahan yang telah kita maafkan tersebut. Karena ada saja kita yang mampu menahan amarah tetapi tidak memaafkan, atau memaafkan tetapi tidak mau bersilaturahim dan tegur sapa. Tentunya tidak demikian yang dimaksudkan Allah dalam ayat ini. Memaafkan berarti melupakan kesalahan orang yang kita maafkan tanpa syarat apapun.

Ketika kejahatan kita balas dengan kejahatan, penghinaan kita balas dengan penghinaan, fitnah kita balas dengan fitnah, membeberkan aib kita balas dengan membeberkan aib, apa gunanya kita sekolah tinggi-tinggi dan belajar agama yang banyak kalau kita hanya meniru keburukan orang lain. Sebetulnya kita belajar dan kita meningkatkan pemahaman agama itu agar kita bisa berbuat lebih baik. Orang menghina, kita bisa berkata dengan lebih baik. Tahukah kita kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wasallam tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 7, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri …”. Ini adalah sebuah ayat yang secara gamblang menjelaskan kepada kita bahwa kebaikan itu kembali kepada pembuatnya dan keburukan kembali kepada pelakunya. Jadi jika ada yang berbuat buruk kepada kita dengan perkataan dan sikap buruk, tanpa kita balas pun itu sudah pasti kembali kepada dirinya, dan yang kembali kepada kita adalah sikap kita sendiri. Penghinaan tidak akan pernah mencelakakan kita kecuali mencelakakan dirinya sendiri. Kita hanya akan hina dan celaka kalau kita berperilaku hina dan menghina orang lain. Oleh karena itu, jangan galau dengan keburukan orang, tapi galaulah ketika kita berhati buruk, berpikir buruk, berbicara buruk, dan bersikap buruk, karena itulah yang sebenarnya menjadi petaka bagi diri kita sendiri. Percayalah dan yakinlah, tidak ada yang tertukar, setiap perbuatan kembali kepada pelakunya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk melakukan tiga hal yang ada pada surat Al-Imran ayat 134 ini. Semoga kita semua mampu meraih predikat taqwa di sisi Allah SWT. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *